FANFICTION: in café

inside-of-cafe

#pure karya gw. based true story but not in the end#

note: for myung, mian banget pake dirimu. mungkin ini yang terakhir deh dirimu mencerminkan ‘dirinya’.

 for all: sumpah, ini adalah story yang extra geje.

Cast: Rin, Infinite (minus Sungjong), dll.

Length : 1shoot (1106 words)

in café

Aku memasuki café yang lumayan ramai. Banyak muda-mudi berkelompok, membentuk sekutunya masing-masing. Hingga sampai ke meja kasir, seorang gadis yang aku kenal terlihat kelelahan namun tetap akan senyumnya yang manis.

“hey, pesan apa?” Tanyanya seperti biasa ketika aku berkunjung kesini. tidak ramah, it’s ok. karena kami sudah saling kenal.

“Americano satu saja.” Jawabku.

“mau langsung pulang?” tanyanya lagi. Aku mengangguk.

Sembari menunggunya membuatkanku minuman yang aku pesan, aku melihat ke sekeliling. Memang ramai dan ia hanya berdua dengan temannya. Temannya, seorang gadis tomboy yang gesit melayani pembeli, mengantarkan minuman serta cake. Kulihat, dia berdiri setelah mengantarkan pesanan. Tunggu, aku kenal seorang itu. Tidak, dua orang. Eh, tiga, dan kelimanya aku sangat mengenalinya.

Aku memalingkan wajahku dari hadapan mereka-mereka namun terlambat. Salah satu dari mereka memanggil namaku. Haissss…. Aku benar-benar ingin menghindari mereka. Andaikan saja tidak ada salah satu dari mereka, aku pasti datang kesana dengan langkah yang ringan. Aku menoleh ke arah mereka lalu menganggukkan kepala saja.

“Rin, Americano-nya mesti diisi dan itu membutuhkan waktu. Sebentar, ya. Bisa menunggu, kan?”

God! Apalagi ini? Ah, yah~ mau tak mau aku harus tetap menunggu dan masih berdiri didekat kasir. Mey, gadis tomboy yang gesit itu menghampiriku dan berbisik, “kamu dipanggil mereka, tuh. Disuruh kesana.”

Men, haruskah? “oh, tapi aku harus menunggu Jungah mengisi Americano.” Hanya ada itu alasan yang dapat menguatkan dan supaya aku bisa menetap di tempat sekarang ini.

“nanti aku antar. Dan mereka telah memesan brownies untukmu. Mereka yang bayar. Sudahlah. Kesana aja. Susah banget, sih.” Mey mendorongku pelan. Aku mengangguk pasrah. Dengan langkah gontai, aku menghampiri mereka.

Aku kenal mereka karena salah satu dari mereka memperkenalkanku kepada mereka. Kim Myungsoo. Ia memperkenalkanku kepada Nam Woohyun, Lee Sungyeol, Jang Dongwoo dan Hoya. Dan orang yang tidak ingin ku temui adalah Kim Myungsoo, yang memperkenalkan mereka.

“hey, Rin. Apa kabar?” Jang Dongwoo menjabat tanganku dengan antusias, seperti biasanya.

“baik-baik, as usually.” Jawabku singkat tapi masih berdiri. Tidak ada kursi kosong disitu dan aku juga tidak ingin duduk. Sesekali aku melirik ke arah Myungsoo. Ia memasang wajah yang datar.

“Rin, kok berdiri aja sih? Duduk dong.” Woohyun malah bertanya.

“Ya Ampun, kursinya aja ngga ada.” Sungyeol mengambil kursi tanpa penghuni di belakangnya dan menaruhnya tepat di sampingnya. “nah, silahkan duduk.” Kata sungyeol setelah menepuk kursi.

“Sungyeol, salah taruh kursi.” Hoya angkat bicara saat aku duduk. “harusnya kursi itu di taruh di samping Myungsoo.”

Sungyeol menjentikkan jarinya, tanda ia mengerti. Namun sepersekian detik, Myungsoo angkat bicara, “Ah, aniyo. Biarkan saja disitu. Kami juga sudah tidak berpacaran lagi.”

Ck! Memangnya aku ingin duduk di sampingnya? Sunggu tidak. Dan aku berada di café ini pun karena kebetulan. Serta aku ada di meja ini pun gara-gara terpaksa. Dan kalau dipikir, untuk apa berlama-lama aku ada disini?

“Loh, kan tadi katamu kita akan bertemu dengan seorang gadis. Bukannya dia?” Tanya Woohyun sambil menunjuk ke arahku.

“Tentu saja bukan.”

“santai dong, Myung. Ah, itu Mey dengan pesanan kita.” Ujar Hoya mencoba mencairkan suasana.

“eum, sebaiknya aku langsung pulang aja, ya?” abu benar-benar tidak punya alas an untuk berada di tempat ini. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini.

“lalu, siapa yang akan memakan brownies yang kami pesan khusus buatmu?” kata Dongwoo.

“iya. Kata Sungyeol, itu kesukaanmu.” Tambah Woohyun. Aku mendapatkan suatu kejanggalan. Kenapa Sungyeol yang tau kalau brownies adalah kesukaanku.

“ah, aku tau dari Myungsoo. Sudah lama, sih.” Kilah Sungyeol.

Mey menaruh penasan di atas meja dibantu oleh Dongwoo yang baik hati. Lagi-lagi aku mendapatkan kejanggalan saat Mey menaruh gelas berisi minuman di hadapanku.

“Mey, ini Americano?” tanyaku memastikan. Mey mengangguk. “kok di gelas ini? Kenapa ngga di gelas sekali pakai?” lanjutku.

“ah, aku kira kamu minum disini. Jungah kelelahan jadi aku suruh istirahat.” Mey memberikan penjelasan singkat.

“ya sudahlah, tak apa.” Mungkin mereka kewalahan mendapati café mereka dipadati pengunjung seperti ini.

Kami makan dalam keheningan. Hanya Woohyun, Dongwoo, dan Hoya saja yang becerita membuat sedikit keramaian di meja kami. Sesekali Sungyeol ikut meramaikan. Aku hanya memperhatikan mereka dan sesekali memperhatikan Myungsoo yang sibuk akan smartphone-nya dengan wajah yang sangat datar. Mungkin ia tidak sabar ingin bertemu dengan gadis barunya.

Drrrrrrtttttt…. Drrrrrrrrtttttt….

Smartphone-ku di atas meja bergetar. Ada telpon masuk. , Dongwoo, dan Hoya menjadi dia seketika, memandang handphone-ku yang tak kunjung ku angkat. Dongwoo memberi isyarat agar aku mengangkat telpon itu.

“ya?”

“Rin, aku mau ke café favorit-mu nih. Mau pesan?”

“oh, aku ada di dalam café. Masuk saja.”

“oke. Aku masuk.”

Aku melihat seorang pria memasuki café, dia orang yang di telpon tadi. Ia langsung melihatku dan menghampiriku. Tapi, di belakangnya ada seorang gadis berambut panjang menuju ke arah yang sama.

“hay, beybs.” Sapa gadis itu ke arah Myungsoo kemudian mereka cipika-cipiki.

Semua teman-teman Myungsoo termasuk aku dan pria yang menghampiriku memandangi mereka sejenak. Dan untung saja menyadari kalau kami memperhatikan mereka, kemudian tersenyum ke arah kami.

“kenalkan, dia Baek Suzy. Pacarku.” Seringainya aku yakin pasti ditunjukkan untukku. Mungkin dia pikir, aku belum bisa move on darinya. Hah! He’s not the only one.

“oh, sepertinya aku juga harus memperkenalkan diri.” Aku kaget tiba-tiba pria ini mulai angkat bicara. “namaku Kim Sunggyu. Pacar Park Heerin.”

Eh? Sunggyu mengaku-aku pacarku? Apa-apaan ini? Dia itu kan hanya lelaki yang sebenarnya adalah anak dari kakaknya ibuku. Yah, intinya kami adalah sepupu. Dan lagi kami memang jarang sekali bertemu namun keakraban kami membuat adik Sunggyu iri.

Aku dan Sunggyu tidak bisa berlama-lama berada di café. Setelah Sunggyu memesan minumannya, kami berpamitan kepada semua. Sungyeol selalu merespon paling lama karena ia larut lamunannya. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.

Keluar dari café, ingin rasanya menanyakan sederet pertanyaan keluar dari bibirku. Tapi, aku Cuma ingin menanyakan satu hal yang penting. “Sunggyu, kok ngaku-ngaku sih? Sembarangan banget.”

“hei, aku tau kalau pria itu adalah mantanmu. Dan aku melihat ia seperti merendahkanmu. Makanya akulangsung ngomong gitu. Lalu aku sadar akan pria yang seperti anak kecil itu. Kami pernah bertemu di rumahmu, kan?”

“sungyeol, ya?” waktu itu sungyeol memang pernah ke rumah beberapa kali dan bertemu Sunggyu. Mereka sempat ngobrol tapi aku tidak tau apa yang diobrolkannya.

“sebaiknya kamu sms Sungyeol deh. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai semua selain Sungyeol tau.” Usul Sunggyu.

“kenapa?”

“apakah kamu mau dipermalukan lebih lebih?”

Ah, aku tidak mau pasti. Aku mencari smartphone di dalam tasku, namun tidak juga ku temukan. Sepertinya tertinggal di meja café. Dan mau tak mau aku harus segera mengambilnya. Ketika aku berbalik, aku melihat Sungyeol berlari sambil memegangi  smartphone-ku yang sangat berharga itu. Untung saja Sungyeol yang mengantarnya. Dan untung lagi, kami masih belum jauh dari café.

“bukankah kalian sepupu?” Tanya Sungyeol setelah memberikan smartphone-ku.

“benar. Aku berlaku seperti tadi karena aku tidak suka melihat mantannya membanggakan diri.” Jawab Sunggyu.

“syukurlah. Rin, nanti malam aku akan kerumahmu. Aku mau kembali ke café dulu. Bye!” Sungyeol melambaikan tangan kemudian pergi.

Lalu, maksud dari ‘syukurlah’ itu apa?

*FIN*

gw ngerasa bersalah banget pake myungsoo buat mencerminkan ex-ex gw. gw sempat berpikir ‘ntar kalo gw kesel beneran sam Myung, gimana ya?’ hhaha.. itu ngga boleh terjadi.

Advertisements

One thought on “FANFICTION: in café

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s