How we start

Ngga ada yang mengutarakan. Tau-tau, VIOLA….!

Jadi, setelah beberapa lama bersama *ceile, anak baru di kantor yaitu Lilis, nanya ke aku “jadiannya tuh gimana?” jawabannya memang ada diatas itu. Namun dia masih bingung. Dan mulailah aku ceritakan….

Saat itu ada acara famgath dan di malamnya dia ajak aku ke pantai. Cerita-cerita tentang kita seperti 2-3 bulan sebelumnya. Biasa aja kayak temen tapi yah gitu deh. Saking udah kami rasa deket, pegangan tanganpun kami biasa aja.

Setiap hari SMS dan BBM. Ngga pernah dia lewatkan untuk mengucapkan “Selamat Pagi” tepat pukul 6. Hari-hari berlaludan dikemudia hari, dia panggil aku “sayang” yang ngebuat aku rada geli karena, sebelum-sebelum nya aku berpacaran dengan yang terdahulu, kata itu sangat jarang sekali diucapkan.

Dih, panggil sayang sayang. Emang kita pacaran?” tanyaku di bbm kala itu.

Iya, kita pacaran.” jawabnya cepat karena langsung terbalaskan.

Sejak kapan?” tanyaku memancing. Mungkin ada harapan, dia bakal datang kerumahku saat itu juga trus nembak aku dengan sebuket bunga atau bonek besar buanget.

Oia, sejak kapan, ya? Pas ini aja deh, di famgath. Suasananya romantis. Kita duduk di pinggir pantai berduaan aja. Memang ngga ada kalimat yang terucap, biarpun begitu, kita sama-sama tau perasaan kita. Kita kencan, kan malam itu.” jawabnya hanya dengan begitu kurang lebih.

Setelah aku baca pesannya itu, aku tertawa cekikik-cekikik. Aku ngga nyangka aja bisa semudah itu. Yang kitanya sama-sama nyaman kalo berdua dan untuk jadiannya, dia yang nentuin. Tapi, dari situ aku yakin kalau dia bener serius mau jadian sama aku. Setelah kita jalan-jalan tanpa status, he grab my hand and being friend untuk menemaninya, harusnya dia bisa cari cewe lainnya yang bisa dibilang lebih dari aku. Dan, setelah pesan itu terbaca, dia kirim pesan lagi.

Kita sama-sama sudah dewasa, sepertinya ngga perlu mengungkapan sesuatu dengan cara anak-anak.

Ya. Seperti itulah. But, balik lagi ke Lilis. Aku menyampaikannya juga seperti itu. “Kami sama-sama dewasa, jadi ngga perlu tembak-menembak macam abg.” dan aku tau, itu salah. Ternyata, Lilis butuh pencerahan karena dia juga lagi pdkt. Kata-kata dewasa itu nah yang salah. Lilis itu lebih tua dari aku dan pdkt nya Lilis juga lebih tua dari Mas aku. Pastinya mereka lebih bisa untuk masalah seperti ini karena yang aku tau masing-masing dari mereka telah berpengalaman.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s