Karma Banjarmasin

4 atau 5 tahun yang lalu, aku pernah mengikrarkan sepotong kalimat dengan seyakin-yakinnya.Ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku ke kota ini. Aku mau blacklist!dan mau tau, kota itu adalah Kota Banjarmasin.

Aku mengucap itu dalam hati (awalnya) dengan perasaan yang bisa dikatakan sedang kesal. Menumbulkan kebencian dengan suatu hal yang mungkin menurutku memang sepantasnya.

Jadi, pernah nih lebaran idul fitri, semua anak-anak bapak plus menantu pada ngumpul buat lebaran bareng di Balikpapan. Awalnya sih seneng kan ya pada ngumpul lengkap dan pasti bahagia. Tapi kebahagiaan itu mesti terpotong dikarenakan jauh-jauh hari sebelum lebaran, bapak mau ke Banjarmasin tengah hari setelah solat Ied.

Apa yang membawa bapak untuk berlebaran disana? Toh, padahal kami ngga punya sama sekali keluarga disana. Nihil. Ndak ada satu pun!

Jadi, mas aku (bukan Si Mas) nih pacaran sama tetangga deket rumah. Sebelum pacaran, bapak udah deket banget sama keluarga nya si cewe bahkan sudah anggap keluarga. Nah, beberapa hari sebelum lebaran, bapak si cewe ini ada bisnis trus ke Banjarmasin. Sampailah pada H-3 lebaran, bapaknya ini nda ada kabar, nda ada juga tanda-tanda mau pulang. Sampailah ditelinga bapak. So, bapak malah ajakin buat kesana sekalian ke tempat Kai sama Neneknya. Kesahnya mau lebaran disana.

Gimana dengan aku? Aku menolak. Soalnya, setelah beberapa hari lebaran, aku kudu OSPEK di kampus. Persiapannya nda ada banget. Belum sih. Makanya aku ngga mau ikut.

H-2, Mas aku (yang pertama) yang tinggal di Bontang datang bersama istrinya. Mereka memang suka kksih surpise. Tiba-tiba datang aja tanpa bilang-bilang. Wah, aku kan seneng banget nih atas kedatangan mereka. Mereka pasti ngga mau ikut. Tapi itu tidak merubah keputusan bapak buat pergi. Jadi, aku minta ditinggal. Ngga boleh juga. Yaudah lah. Mau dikata apa. Ngikut aja.

Sepanjang perjalanan aku tuh kesel, gondok, sedih, gundah. Sesampainya di Banjarmasin juga aku dicuekin maksimal. Jadi lah aku berpikir, “kehadiranku gin juga ngga merubah apapun. Mau aku ada atau tidak, tetap sama.” yang dielu-elukan itu Mas aku itu karena mungkin bakalan jadi future grandson-in-law. Dan disana juga ngga ketemu sama bapaknya si cewe.

Dari situlah aku berani mengikrarkan kata-kata itu. Dan lagian, in the end, Mas aku ngga jadi juga sama tuh cewe. Semua yang telah terjalani mendapatkan hasil yang kosong. Belajar dari prosesnya aja dah.

But, Allah dapat membalikkan semua. Mau ngga mau, aku berkecimpung lagi dengan Banjarmasin. Calon suami aku itu (Si Mas :oops:) lahir dan besar di kota itu. Orang tuanya? Ya juga di kota itu.

Dulu, sebelum sama Si Mas, aku pernah deket sama Mas Hery yang juga dari Banjarmasin. Deketnya dalam hal bercerita, bertukar (mungkin lebih tepatnya itu minta) film atau drama atau reality show korea. Aku pernah juga bilang seperti itu sama dia.

Pas aku jadian sama Si Mas, masil lempeng aja. Waktu ketika Mas Hery sudah tau kalau kami serius, dia malah mengingatkanku dengan ikrar yang pernah aku buat. “Mau ngga mau, kamu pasti kesana. Temakan deh

Iya, bener. Sesuatu yang kita benci, ngga boleh sepenuhnya kita benci. Bakal kebalikan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

5 thoughts on “Karma Banjarmasin

    • Saya juga setuju kalau seperti itu. Ketidakmampuan dalam diri sendiri ngga bisa dibenci toh itu milik kita. Yang bisa dilakukan ya berusaha mengimbangi ketidakmampuan dengan kemampuan yg ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s