kepidaraan

minggu pertama bulan April, aku dapet 3 undangan sekaligus. undangannya bukan undangan ulang tahun atau undangan untuk menghadiri seminar. as we know lah ya.. undangan pernikahan yang bertebaran diusia aku yang bukan remaja lagi.

pokonya jangan ditanya kapan aku nebar undangan pernikahan. jangan!

minggu pertama di nikahan mba yuri, aku datang rame-rame dengan teman kantor. ngumpul dulu di kantor karena acaranya di hotel belakang kantor. rencana sih mau jalan kaki. tapi, matahari lagi hot-hot nya, akhirnya naik motor tanpa helm.

minggu kedua, tepat di minggu ini, temen kantor juga ada yang akan melangsungkan pernikahan. hari kamis tiba-tiba aku drop. sebenernya nih sakitnya karna virus menular (batuk-pilek), setahu aku. tapi kata mas, aku sakit karna ngga mau dia tinggal. dia mau pulang ke Banjar buat menghadiri penikahan teman kantor yang diadakan di Banjar. terlalu pede sekali dia.

pas sudah sampe dirumah, migrain menyerang dengan dahsyat. wuiihhh… atit banget deh pokoknya. aku pikir, nih, setelah dibawa tidur, besok paginya bakal kembali ceria seperti sedia kala. ternyata tidak! terpaksa ijin dari kantor.

tetangga depan heran kan kenapa aku ngga ngantor, datanglah kerumah. pas kena udah diceritakan, disahutinya “kepidaraan itu”
senyum aja mah akunya. percaya ngga percaya, namanya gin mitos jaman baheula. mitos ini tercipta di Banjar. karena aku tinggal di Balikpapan, as we know lah, Balikpapan itu isinya pendatang semua. kebanyakan Banjar yang satu daratan. ataupun Jawa yang keBanjar-Banjaran namun tidak melepaskan asalnya darimana. Mbah-ku Jawa, tapi udah ke Banjar-Banjaran karena lingkungan sekitar udah banyak yang Banjar.

oke. fix deh aku percaya dengan perkataannya mereka. aku kepidaraan.

dulu, aku pernah kena kepidaraan beberapa kali. kasus yang pertama itu mengandung hal yang sangat mistis. ketanya aku keteguran roh halus yang berkeliaran dekat rumahku yang dulunya dekat hutan lebat banget. cara mengobatinya, hanya Mbah Uti yang bisa.

jadi, senja mendekati magrib keami berdua duduk di dekat ambang pintu, sedikit menghadap luar rumah. ada kunyit, bawang merah, lilin dan parang kecil. entah apa bacaan Mbah Uti, usiaku saat itu sekitar 10 tahun. kunyit digesekkan di bawang merah, trus kunyit itu dibakar di api lilin. ditiup-tiup trus dicoretkan di dahi aku seperti tanda X. katanya itu palangnya. oia, motongnya ngga pake piso dapur biasa. pakenya parang kecil tadi. penangkalnya, bilang. jadi, seperti itulah ritualnya.

kejadian yang kedua, aku kepidaraan karena roh nenek moyang salah tegur. nah, loh? dulu, mungkin sekitar aku kelas 2 SMA, kakaknya pacarnya Mas Adi dulu (sekarang udah jadi mantan karena putus, bukan diperistri) nikah. keluarga kami itu udah deket banget kayak keluarga banget dah. di tanah Kalimantan (mungkin), ada pengajian pada malam sebelum akad nikah untuk meminta ijin kepada tetua-tetua yang telah meninggal. dan mereka melaksanakannya dan keluarga kami turut serta dong bantu-bantu.

tapi, ngga tau kenapa mesti salah tegur di aku. masa iya sih nenek moyang nya salah lihat? atau salah persepsi? toh aku kan ngga mirip dengan kakaknya itu. finaly, keesokan harinya, saat akad nikah kakaknya itu, aku drop. tumbang. ngga hadir dong ya kan. ditanyain lah sama keluarganya mereka.

“Ririn nya sakit.” danm Mamaknya yang merupakan Banjar tulen asli, langsung bilangin aku kena kepidaraan. “ntar sore diobatin”

ritualnya pun hampir sama kayak Mbah Uti dulu. Tapi, ini cuma pake kunyit, piso dapur biasa, sama korek. dan besoknya, aku sehat seperti sedia kala. hehehe

yang kali ini, karena ngga punya lagi kerabat terdekat Banjar (Mbah Uti meninggal, terjadi konflik antara keluarga kami dan mantan pacarnya Mas Adi), nda ada yang mengobati. tetangga, mereka baru. nda terlalu kenal banget.Si Mas yang di Banjar, dia kan di abnjar. lagian dia tuh sebenernya asli orang Jawa. hanya lahir dan besar aja di Banjar.

tumbang 3 hari dirumah. endingnya ke rumah sakit. belum sembuh total setelah dari rumah sakit, tapi yah dipaksa aja.

aku sakit ginian, ngobrol lah sama tante yang ada nun jauh disana. dan katanya, “ini kepidaraan, keteguran nenek moyang. mereka mau nanya, kapan mau nikah? tuh, tau-tau dapet undangan sekaligus 3.”

aku mah ketawa aja denger gituan. itu cuma akal-akalannya aja. tapi, beberapa orang juga meyakini hal serupa. heuheuheu :'(

yang sabar ya, nenek moyang~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s