Finally, Banjarmasin

Bulan kemarin , Januari, aku ambil cuti dari kantor untuk (mungkin) yang terakhir kalinya sebelum aku bener-bener out dari perusahaan dan lagi aku juga pengen merasakan yang namanya cuti besar. Hehehe. Seperti yang atasanku ketahui, apabila aku mengambil cuti lebih dari 4 hari, sudah dipastikannya, aku tidak berada di Balikpapan. Pasti deh, caw ke luar Balikpapan.

Akhirnya, setelah 2 tahun 4 bulan jadi pacarnya si mas, untuk pertama kalinya aku di bawa ke kampung halaman. Provinsi Kalimantan Selatan yang dimana dulu itu sempat memberikan suasana hati yang kurang menyenangkan. Mungkin di postinganku sebelumnya, pernah aku ceritakan kenapa bisa seperti itu.
Aku sudah mulai cuti sejak hari Kamis, istirahat setelah 1 bulan bekerja ekstra karena something happens diantara rekan kerja. Aku mau go away dari mereka pembuat onar. Hahaha. Belum packing hingga Sabtu pagi. Jadwal pesawat sih jam 2 siang. Tapi, ngga biasanya aku gitu. Seminggu sebelum berangkat, aku pasti udh menyiapkan sebagian. Antara niat dan ngga niat nih. Malahan sabtu pagi aku sempat jalan-jalan keliling Balikpapan sampai jam 12 siang.

Singkat cerita, sampailah di Bandara Syamsuddin Noor Banjar Baru. Dahi berkerut-kerut. Alasannya, biasa liat bandara besar, lah ini, speachless. Pembangunannya mungkin masih dalam proses kali, ya? Semoga secepatnya.

Di masjid bandara juga jd tempat menunggu karena mungkin memang karena hanya di masjid itu yang menyediakan colokan buat charge hp dan tenaga. Fungsi masjid jadi banyak. Yg bukan muhrim bisa sender-senderan, bobo di paha pasangannya.

Perjalanan dari bandara ke Banjarmasin hampir memakan waktu 45 menit dan biaya 100rb. Lumayan, ya? Itu loh naik taksi argo, udh dimintain diskon. Setelah sampai Banjarmasin, lanjut lagi perjalanan ke kampung halaman si mas, dimana bapaknya si mas tinggal. Marabahan. Waktu tempuhnya 3 jam dengan motor matic.

Telah sampai di TKP, dan itu tempat nya pelosok sekali. Di tengah perkebunan. Tetangga masih jauh sekali. Dan kerennya, kalo malam semua bintang terlihat. Rame banget deh bintangnya. Trus juga masih ada kunang-kunang.

Disana juga aku mulai mengenal banyak tumbuhan seperti tumbuhan kopi yang gak pernah aku liat sama sekali secara langsung. Jeruk tinggal petik, ada juga jeruk bali. Luar biasa dan fantastic baby. Anehnya dsna tuh ngga dingin, ngga seperti di Balikpapan, kalo pagi menurutku dingin banget trus kalo mandi, pasti deh menggigil. Disana mah biasa aja. Abis solat subuh, ngga tidut lagi bisa langsung mandi.

Di kota Marabahan nya kayak daerah Kebun Sayur di Balikpapan. Banyak orang jualan, banyak pasar. Selama di sana, blas nda ada belanja. Ke suatu objek aja cuma d jembatan.

Nama jembatannya itu, Jembatan Rumpiang yg katanya menghubungkan Banjarmasin dengan Marabahan.

Kalau memang jodoh, bakal kesini lagi. Kalaupun tidak, ya pasti tidak akan kesana. 

Advertisements

5 thoughts on “Finally, Banjarmasin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s